Masih menjadi polemik
tentang komoditi sawit Indonesia, bahkan terbawa sampai ke luar negeri. Negara
Eropa mengklaim bahwa perkebunan sawit di Indonesia melanggar aturan soal
lingkungan dan tidak mengacu pada peraturan dunia yang terangkum dalam RSPO (Rountable
Sustainability Palm Oil)
Sedangkan Indonesia
sudah mengacu pada ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) yang mengacu pada
peraturan pemerintah Indonesia yang di dalamnya terdapat 7 prinsip, 41 kriteria
dan 127 indikator yang menyangkup isu hukum, ekonomi, lingkungan dan sosial.
Indikator prinsip dan kriteria ini juga menjadi acuan bagi petani dan perusahaan
dalam memperoleh setifikat ISPO.
Dalam buku “Think Palm Oil With A Cup of Coffee”
karya Ir. Gamal Nasir, MS ada kesaksian tayangan berita di CNN yang menampilkan
kondisi perkebunan sawit di Indonesia yang kacau, dipertegas dengan foto bekas
penebangan sawit yang di pinggirnya ada orangutan mati dan sejumlah pemandangan
yang tidak layak untuk sebuah hutan yang asri. Hal ini menuai kritik dan
dimanfaatkan untuk dipolitisasi negara penghasil minyak kedelai, minyak bunga
matahari dan minyak lainnya yang menjadi komoditi mereka.
Padahal, kondisi yang
sebenarnya tidak seperti yang beredar dalam berita media besar tersebut. Jika
adapun, hanya perusahaan yang belum menerapkan ISPO dan standar yang berlaku
dari pemerintah, mencakup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian
Pertanian serta LSM. Masalah sawit belum tersosialisasi, jadi banyak yang tidak
tahu bagaimana keadaan sawit yang sebenarnya, yang tidak membahayakan jika
menerapkan sistem ISPO dan menumbuhkan kesadaran masyarakat.
ISPO sangat mengacu pada
aspek legalitas dan standar teknis budidaya, aspek lingkungan, aspek tanggung
jawab pekerja, aspek sosial dan aspek keberlanjutan. ISPO dan RSPO pada
dasarnya punya misi yang sama hanya berbeda pada status wajib atau tidaknya.
Jika RSPO bersikap sukarela maka ISPO bersikap wajib.
![]() |
International Conference On Indonesian Sustainable Palm Oil (IC-ISPO) 2017 |
Maka, petani dan
perusahaan sawit di Indonesia jika ingin lancar segala urusannya dan tidak kena
sanksi sosial saat melakukan pemasaran, wajib menjalani proses untuk mendapatkan
sertifikat ISPO.
Pada Seminar “International
Conference On Indonesian Sustainable Palm Oil (IC-ISPO) 2017 di JCC pada 11,12
April 2017, yang diselenggarakan Media Perkebunan, dilaksanakan penyerahan
sertifikat ISPO bagi para petani dan pengusaha yang telah menjalankan prosedur
dan memenuhi persyaratan.
Narasumber yang hadir,
dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pertanian dan
jajaran pemerintahan lainnya. Dalam sambutan Ir.Bambang, MM dari Kementerian
Pertanian menyatakan bahwa sawit berperan sangat penting untuk memenuhi
kebutuhan hajat hidup orang banyak, untuk pembuatan minyak sayur, jika terbuat
dari sawit, rendah kolesterol dan harga lebih rendah.
Sawit juga bermanfaat
untuk campuran berbagai produk kecantikan, biskuit, cokelat, kerajinan tangan
bahkan untuk pengganti bahan bakar non fosil. Crude Palm Oil (CPO) adalah bahan mentah minyak yang terbuat dari
sawit sebelum diolah menjadi bahan yang diinginkan. Dari CPO ini bisa menjadi
nilai tambah perekonomian masyarakat.
![]() |
Penelitian laboratorium yang detail, mulai dari akar, batang, tandan dan daun |
Perusahaan-perusahaan
yang memenuhi persyaratan ISPO dan konsisten menjalankannya, selalu memproduksi
Tandan Buah Segar yang berkualitas, termasuk memerhatikan unsur hara tanah,
pupuk berkualitas dan memberi penghijauan di sekitar perkebunan sawit. Sehingga inovasi pengadaan bibit unggul memberi sumbangsih terhadap keberhasilan terciptanya varietas buah sawit segar berkualitas.
Untuk pekerjanya pun
tidak mempekerjakan anak di bawah umur atau pegawai dengan upah di bawah
standar. ISPO juga mendidik masyarakat untuk melakukan social action dengan tidak membeli produk yang diproduksi oleh
perusahaan yang pengolahan produksinya mengganggu lingkungan.
Dengan adanya seminar,
pameran dan edukasi tentang sawit, diharapkan masyarakat Indonesia paham dengan
komoditas perkebunan sawit yang dimiliki. Ini adalah salah satu kekayaan yang
unggul dan dapat menjadi penyumbang devisa negara.
Saatnya pemerintah, akademisi dan stakeholder bergerak bersama untuk meyakinkan bahwa perkebunan sawit Indonesia dengan mengacu pada ISPO sudah sesuai dengan kondisi alam dan budaya Indonesia. Patahkan opini buruk dan black campaign dari negara lain yang menyebutkan perkebunan sawit Indonesia melanggar lingkungan yang universal.
Kelapa sawit, komoditas unggul dan andalan negeri ini, layak dilestarikan demi anak cucu ya teh.
ReplyDeleteBetul Mba
DeleteWuah hanya ada satu cara tuk hadapi Black campaign ini ya Teh? "Pembuktian". Ayo pengusaha kelapa sawit. Buktikan sudah melalui prosedur yang benar, pekerjanya menerima upah kerja yang layak, pasti mudah teredukasi melakukan pelestarian lingkungan & semangat meraih kebaikan bersama.
ReplyDeletePadahal kalo para pengusaha sawit menjalankan ISPO pastinya akan berdampak baik dan mengurangk kritik massal ya Teh. Soalnya sebagai orang awam pun yang sampai ke saya beritanya begitu, pemusnahan hutan dan eksploitasi hutan. Semoga semakin banyak pengusaha yang menyadari akan pentingnya peraturan standar ISPO ini.
ReplyDeleteThank youu mbaak saringnyaa. Bermanfaat bangeet 😊😊😊 adanyaa ISPO semogaa semakin baik tata kelola perkebunan sawit di Indonesia serta semakin banyaak pulaaa perusahaan yg menerapkan ISPO sebagai suatu kebutuhan bukan pilihan.
ReplyDeletedengan adanya ISPO harapannya tentunya tercapai berbagai tujuan untuk sesuatu yg lebih baik.
ReplyDeleteWah, ternyata ada black campaign dari negara lain mengenai sawit kita ya Teh ��
ReplyDeleteKomoditi unggulan buat Indonesia ya, teh
ReplyDeletePengetahuan baru nih tentang kelapa sawit. Good
ReplyDeleteDari judulnya Lestarikan Hutan Sawit Indonesia sya gak setuju banget deh, soalnya tanaman sawit adalah tanaman yang menyerap air dari perut bumi yg paling banyak.. Gak sayang Bumi apa?
ReplyDeleteyang jelas semoga para petani sawit bisa semakin sejahtera.
ReplyDeletesustainable approach memang penting banget ya mba..supaya selau lestari hutan kita..
ReplyDeleteAhh..bicara tentang perkebunan sawit ini, hati ini sedih karena masih banyaknya hal yang simpang siur
ReplyDelete